Demonstrasi Tidak Harus Anarkis

| |

Istijaar Akbarok (Foto: dok. pribadi) DEMONSTRASI adalah hal biasa yang terjadi di Indonesia. Dari berbagai elemen demonstran, biasanya mahasiswa tidak pernah absen. Tidak heran, mahasiswa memang cukup peka terhadap berbagai kebijakan baru ataupun kebijakan yang tidak terealisasi dengan baik. Perilaku seperti ini sudah sangat mendarah daging di tubuh para mahasiswa, baik di kota maupun desa. 
Tetapi, dewasa ini, kegiatan demonstrasi telah disalahfungsikan atau melenceng dari makna demokrasi seutuhnya. Demonstrasi kini sudah dimanfaatkan sebagai ladang pelampiasan emosi, kemarahan, dsb. Contohnya saat berdemonstrasi kemarin di Jakarta, ada salah seorang yang sangat bodoh dengan membawa cairan kimia dan menyalahgunakannya untuk melukai orang lain. Selain itu, dampak dari sebuah amarah demonstran adalah fasilitas kota dan masyarakat umum yang menjadi korban pelampiasan mereka.
 
Perlu kita ingat, pembangunan wilayah sebuah daerah memakan anggaran besar. Anggaran tersebut bisa bertambah besar jika APBD yang dimiliki digunakan untuk perbaikan fasilitas-fasilitas yang rusak karena kemarahan demonstran. Lagi-lagi, uang rakyatlah yang harus keluar untuk perbaikan tersebut. Niat ingin memakmurkan rakyat dengan berdemonstrasi pun bergeser, karena secara tidak langsung, para demonstran menyia-nyiakan uang rakyat.
 
Mengapa taman kota yang harus dirusak padahal era globalisasi menuntut kita memperhatikan penghijauan? Haruskah pagar gedung DPR/MPR dirusak hanya untuk mencoba masuk ke dalam gedung itu? Bukankah perusakan pagar mewah gedung DPR/MPR justriu akan memakan biaya perbaikan yang besar? Pernahkah para demonstran yang ‘enjoy’ dengan sifat merusaknya berfikir tentang dampak atas perilaku mereka?
 
Pernah saya bertanya pada seorang yang pernah berkecimpung di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). “Apakah demonstrasi merupakan satu-satunya cara untuk menyampaikan sebuah aspirasi?” Dia menjawab, “Sebenarnya salah jika kita harus teriak-teriakan di depan gedung DPR/MPR hanya untuk berorasi, karena gedung DPR/MPR RI terbuka untuk umum.”
 
Dalam hal ini saya sangat setuju dengannya, dan foto di atas bisa menjadi sedikit bukti pernyataannya itu. Dua tahun silam ketika saya masih tergabung dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), saya mengikuti pertemuan anggota IPM se-Jabodetabek yang bertempat di gedung DPR/MPR RI. Di sana kami berkumpul untuk membahas berbagai masalah dengan anggota dewan sebagai pembicara.
 
Ternyata siapa pun bisa masuk dengan mudah ke dalam gedung DPR/MPR RI, asalkan dengan tujuan yang jelas, serta tentunya dalam keadaan rapi dan tidak berbuat onar.
 
Istijaar Akbarok
Mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet)
Universitas Padjadjaran (Unpad)
(//rfa) BERITA TERKAIT Berita Terkait : Suara Mahasiswa Demonstrasi dan Pesan Damai Demonstrasi Mahasiswa harus Anarkis! Kekuatan Aksi Demo Mahasiswa Perlukah Mahasiswa Berdemo? Drama Politik Kenaikan Harga BBM Gelombang Demonstrasi dan Kenaikan Harga BBM BBM, Mental Pressure, dan Pencegahan Kenaikan BBM, Derita Bagi Rakyat Aksi Protes dan Silang Sengkarut BangsaArsip » BERITA TERKAIT CLOSED ADS ADS CLOSED LIST COMMENT #basic-modal-disclaimer ol.numb

Posted by bowosukses on 4:00 AM. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 comments for "Demonstrasi Tidak Harus Anarkis"

Leave a reply